Sekilas   Redaksi   Konsultasi   Buku Falak    Arah Kiblat    Jadwal Sholat    Kalender    Galeri    Artikel    Links   Softwere

Your browser doesn't support Java.

 

bulan

SITUS RESMI

PP ANNURIYYAH

Layanan Falakiyah

 Dan Konsultasi

      

 

.::  Converter  ::.

 

.:: Jadwal Sholat ::.

 

 

.:: NU On Line ::.

 

.:: Hisab ::.

 

.:: Starrynight  ::.

 

 

facebook

 

Kordinator :

RM Khotib Asmuni Assagaf

 

KONSULTAN  AHLI  :

HM SATRIADDIN

Muzakkin

Abdul Moeid

Sholeh Adaf

Abdul Aziz

Badruddin

 

 e mail :

                 gusmbelink@yahoo.com

                 guskhotib@gmail.com

 

             Call Centre ;  081234673071

::::::::::::::::::::::::.

LINK FALAKIYAH

REGIONAL-LOKAL

Jogja Astro Club

Pusat Studi Falak

Langit Selatan

CASA Assalam

Atjeh Astro Club

Falak Persis

Planetarium Jakarta

Observatorium Bosscha

Live Rukyat Nasional

Falak Cakung

  INTERNASIONAL

Falak Online

Bruney Astronomy

ICOP Jordan

MCW USA

ANCSCC

HSCNA USA

HMNAO UK

Islamic Moon

Earth Moon Viewer

Yahweh Moon Report

Websurf USNO

Hilal Sighting

Extreme Crescent

HCMTV Toronto

AA USNO NAVY

Monzur Ahmed ILDL

Monzur Ahmed Hilal

Robert Van Gent

 

.::::::::::::::::::::::::.

Diklat  Ilmu Falak

Menanggapi banyak permintaan dari para Alumni Peserta " Pelatihan Aplikasi Falak " yang diadakan bulan maret 2009,  insya Allah mulai bulan november 2009 Forum Kajian Falakiyah, Laboratorium Falak Fakultas Syari'ah Universitas Islam Negeri Sunan Malik Ibrahim ( UIN ) Malang, akan mengadakan PELATIHAN ILMU FALAK (DIKLAT) yang di peruntukkan bagi para pecinta Ilmu Falak Khususunya kalangan PESANTREN SE JAWA TIMUR DAN BALI, yang diadakan secara berkala setiap bulan, membuka 2 kelas,

1- Kelas A bagi para pemula yang belum faham sama sekali tentang Ilmu Falak

2- Kelas B / kelanjutan

syarat dan ketentuan bisa kontak langsung ke sekretariat atau ke

Erfaniah Zuhriyyah - 081334676016.

A. Wahidi - 081615118878

Badruddin - 08125203420

Sebarkan dan beritahukan pada teman-teman anda, Semoga bermanfa'at

 

logo

HOME KE ATAS

 

GLOBALISASI RUKYAT & GARIS TANGGAL INTERNATIONAL

Bisakah ru'yatul hilal di globalisasikan? Banyak orang yang mendambakannya. Sekian lama kita merasakan ketidakpastian atau perbedaan di sana-sini dalam penentuan awal Bulan Hijriyyah khususnya awal Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha.

Tetapi, apa makna globalisasi ru'yah itu? Tidak ada makna baku untuk istilah "globalisasi" dalam masalah ru'yatul hilal. H. Chumaidi Muslih (PR, 19 Juli 1994) menawarkan ide menarik namun belum tentu bisa diterapkan, karena globalisasi ru'yah tidak sesederhana yang diuraikannya. Apalagi dengan menyempitkan makna globalisasi sebagai "menyepakati Arab Saudi sebagai tempat pelaksanaan pemantauan bulan (ru'yatul hilal), kemudian negara-negara lain mengikuti dengan memperhitungkan perbedaan waktu/letaknya pada garis bujur (meridian), serta perbedaan posisi bulan/ketinggiannya terhadap garis horison barat pada saat tenggelamnya matahari di masing-masing tempat." Menyepakati Arab Saudi sebagai satu-satunya tempat pengamatan menimbulkan masalah tersendiri.

Masyarakat awam sadar atau tak sadar akan terbawa pada anggapan seolah-olah bumi kita seperti selembar kertas yang mengamati bulan yang satu. Mestinya --dengan anggapan salah itu-- bulan yang satu itu dapat diamati di semua tempat di bumi. Anggapan yang lebih "canggih" menambahkan koreksi perbedaan waktu karena bumi bulat, tetapi tetap dengan anggapan mestinya semua tempat bisa mengamati bulan yang satu itu dengan mempertimbangkan koreksi waktu itu atau beda bujurnya.Anggapan itu memberikan kesimpulan yang keliru karena penampakan bulan dipengaruhi banyak faktor. Dua faktor dominan adalah keadaan atmosfer tempat pengamatan dan lintang tempat pengamatan. Pengaruh atmosfer amat jelas diketahui oleh semua orang, di satu tempat teramati mungkin di tempat lain belum. Pengaruh lintang tempat pengamatan jarang disadari orang. Seolah-olah tempat yang sebujur bisa mengamati bulan pada saat yang bersamaan. Karenanya, dengan anggapan itu, timbul ide sederhana cukup dengan koreksi waktu akibat perbedaan bujur dua tempat. Dengan koreksi waktu itu dihitung ketinggian hilal di tempat lain, bila ketinggian hilal di tempat acuan diketahui

Keinginan ummat untuk mencari rumusan yang tepat bagi penyeragaman awal puasa dan hari raya yang berlaku secara global sungguh beralasan. Tetapi, kadang-kadang makna penyeragamannya pun belum difahami. Masih banyak orang yang beranggapan bahwa penyeragaman berarti bila di Mekkah awal Ramadan tanggal 1 Februari 1995 semestinya di seluruh pelosok dunia pun tanggal 1 Februari 1995. Anggapan seperti itu sebenarnya keliru, karena tanggal 1 Februari lebih didasarkan konvensi penentuan garis tanggal internasional yang melintas di lautan Pasifik. Akibat adanya garis tanggal itu 1 Ramadan di Indonesia bisa terjadi pada tanggal 2 Februari karena pada 31 Januari hilal sulit terlihat dari Indonesia tetapi mungkin mudah teramati di Mekkah. Dengan kata lain, penyeragaman dalam kalender syamsiah hanyalah mengacu pada hasil buatan manusia.

Sumber : Berbagai sumber

░░░

Laporan Anggota BFI/FKF Gresik

Libaran atau lebih familier di kenal dengan Hari Raya Idil Adha di Indonesia mungkin kurang semarak tetapi Lebaran ini jadi momen yang besar dan bersejarah bila kita berada di tanah suci Makkah karena sebagai momen sarat sahnya Ibadah Haji suatu ibadah pamungkas sebagai Rukun Islam.

Rukyatul hilal untuk menentukan awal bulan Dzulhijjah 1430 Hijriyah dilaksanakan pada selasa wage 17 Nopember 2009 bertepatan dengan 29 Dzul Qo'dah 1430 H. Data rukyat menunjukkan : Matahari terbenam pada pukul 17:25 WIB  Tinggi Bulan saat Matahari terbenam 5°25' di atas ufuk Hakiki atau di sebelah kiri-atas posisi Matahari.

 

Dengan izin Allah saudara-saudara kita di Bukit Condrodipo Gresik jawa timur telah berhasil melihat Hilal dengan demikian sesuai dengan edaran lewat SMS yang beritahukan kepada semua anggota Rukyatul Hilal LF PBNU Oleh Bapak Rusli, yang isinya bahwa penetapan awal bulan Dzul Hijjah jatuh pada : selasa wage 17 November 2009

dengan demikian hari raya Idhil Adha jatuh pada : Jum'at Wage 27 Nopember 2009

Sumber ; Forum Kajian Falakiyah

Depag Dikritik Terlambat Gelar Sidang Itsbat
 

Jakarta, NU Online
Beberapa perwakilan organisasi Islam yang mengikuti Sidang Itsbat Awal Dulhijjah 1430 H di kantor Departemen Agama, Rabu (18/11) menyayangkan sidang itsbat digelar pada pagi hari. Seperti dalam penetapan awal Ramadhan dan Syawal, mestinya sidang bisa dimulai tadi malam setelah Maghrib waktu Jakarta atau setelah proses rukyatul hilal di semua wilayah Indonesia telah selesai.Kritik kepada Depag antara lain disampaikan oleh Nahdlatul Ulama (NU) dan Persatuan Islam (Persis). Ketua Lajnah Falakiyah PBNU berharap penetapan awal Dzulhijjah 1431 H tahun depan, sidang itbat bisa dilakukan setelah rukyatul hilal agar umat Islam bisa segera mendapatkan kepastian awal Dzulhijjah.


”Mestinya sidang itsbat bisa langsung dilakukan setelah proses rukyatul hilal selesai agar umat Islam segera tahu kepastian awal bulan. Disamping itu toh sudah ada hasil rukyatul hilal dan bisa segera diputuskan,” katanya.Utusan dari Persis H M. Abdurrahman KS, dalam kesempatan itu bahkan sempat menyitir satu hadits Nabi Muhammad SAW tentang perlunya segera mengumumkan awal Dzulhijjah karena terkait pelaksanaan ibadah qurban.Dikatakannya, hadits shahih menyatakan bahwa umat Islam yang akan berqurban dilarang memotong kuku dan rambut sejak tanggal 1 Dzulhijjah (terhitung sejak malam tanggal 1) hingga pelaksanaan qurban.


”Jika sidang itsbat diadakan pada pagi hari berarti kita telah melanggar undang-undang yang telah digariskan Rasulullah, dan Departemen Agama yang menanggung semua ini,” katanya.
Dirjen Bimas Islam Nasaruddin Umar yang memimpin Sidang Itsbat menyatakan pihaknya akan mempertimbangkan usulan mengenai waktu pelaksanaan Sidang Itsbat Awal Dzulhijjah.
Kepada wartawan usai sidang Nasar mengatakan, Departemen Agama berasumsi bahwa Sidang Itsbat Awal Dzulhijjah diperlukan untuk menetapkan Idul Adha.
”Berbeda dengan Ramadhan dan Syawal dimana umat Islam sudah menunggu penetapan ini sejak malam hari, sementara untuk Dzulhijjah ini kan raya kan masing tanggal 10 Dzulhijjah,” katanya. (nam)

Pemerintah Saudi Telah Umumkan Waktu Wukuf

Riyadh, NU Online
Pemerintah Saudi Arabia telah mengumumkan wukuf di Arafah akan dilaksanakan pada hari Kamis bertepatan dengan tanggal 26 November 2009. Wukuf merupakan inti dari pelaksanaan ibadah haji.
Mahkamah Agung Saudi Arabia telah menetapkan awal Dzulhijjah 1430 H jatuh pada hari ini, Rabu 17 November sehingga wukuf 9 Dzulhijjah jatuh pada hari Kamis, dan Idul Adha 10 Dzulhijjah jatuh pada hari Jum’at.Dengan demikian dipastikan tidak ada Haji Akbar, atau haji yang dianggap sangat utama karena wukufnya dilaksanakan pada hari Jum’at.

Harian Asharq al-Awusat melaporkan, Mahkamah Agung Saudi Arabia berdasar pada hasil rukyatul hilal yang dilakukan oleh warga Saudi pada Selasa sore waktu setempat. Dilaporkan, sejumlah saksi yang dinilai ’adil’ telah menyatakan bahwa mereka telah melihat hilal atau bulan sabit awal Dzulhijjah sehingga 1 Dzulhijjah jatuh pada hari Rabu dan 9 Dzulhijjah patuh pada hari Kamis.
Pihak Mahkamah Agung Arab Saudi di kantor pusatnya di Riyadh menyatakan bahwa sebelumnya mereka telah mengecek dan memastikan kebenaran laporan rukyatul hilal yang telah diterima. (nur/nam)

Idul Adha Ditetapkan Jatuh Pada Jum’at 27 November

Jakarta, NU Online
Sidang Itsbat Awal Bulan Dzulhijjah 1430 H di kantor Departemen Agama Jakarta, menetapkan 1 Dzulhijjah jatuh pada hari ini, Rabu 18 November 2009. Dengan demikian hari raya Idul Adha atau tanggal 10 Dzulhijjah 1430 H akan jatuh pada hari Jum’at, 27 November.Ketetapan ini didasarkan pada hasil rukyatul hilal yang dilakukan di Bukit Condro Dipo Gresik oleh tim Lajnah Falakiyah Nahdlatul Ulama (LFNU). Hilal berhasil disaksikan oleh H M. Inwanuddin (32) dan Samsul Fuad (41).Dalam sidang itsbat dilaporkan bahwa kedua saksi itu telah disumpah oleh Pengadilan Agama setempat. Pengambilan sumpah dilakukan oleh Drs H Nurul Huda.Sidang yang dipimpin Dirjen Bimas Islam Depag, KH Nasaruddin Umar, dibuka pada pukul 10.00 WIB. Sidang ini dihadiri oleh para anggota Badan Hisab Rukyat (BHR) Depag dan perwakilan ormas Islam di Indonesia.
Berdasarkan hasil rukyatul hilal ini berarti semua ormas Islam di Indonesia akan menjalankan shalat Idul Adha pada hari yang sama.

”Kita bersyukur bahwa umat Islam di Indonesia baik yang berdasar pada hisab saja atau hisab dan rukyat seluruhnya akan menrayakan Idul Adha pada hari yang sama,” kata Nasaruddin Umar kepada NU Online usai sidang itsbat.Ditanya mengenai kemungkinan ada beberapa kelompok minoritas Islam yang biasa merayakan Idul Adha pada hari yang berbeda karena memakai metode penetapan awal bulan yang berbeda, menurut Nasar, hingga saat ini pihaknya belum mendapatkan laporan mengenai adanya perbedaan ini.”Kalau pun ada itu tidak menjadi masalah, karena mereka hanya minoritas dan hanya di tempat tertentu. Biasanya juga shalat dilakukan secara diam-diam. Kita juga tetap saling menghargai,” pungkasnya. (nam)

Official Site Astronomy Year 2009    logo   The image “http://www.serambi.co.id/themes/3D-Fantasy/images/srmb_top_01.gif” cannot be displayed, because it contains errors. 

HOME KE ATAS

http://www.facebook.com/

Copyright 2008 (C) Jember Astro Club

Call Centre : 081234673071

 

http:/