
Sekilas Redaksi Konsultasi Buku Falak Arah Kiblat Jadwal Sholat Kalender Galeri Artikel Links Softwere
|
Layanan Falakiyah Dan Konsultasi
Kordinator : RM Khotib Asmuni Assagaf
KONSULTAN AHLI : HM SATRIADDIN Muzakkin Abdul Moeid Sholeh Adaf Abdul Aziz Badruddin
e mail : LINK FALAKIYAH
Menanggapi banyak permintaan dari para Alumni Peserta " Pelatihan Aplikasi Falak " yang diadakan bulan maret 2009, insya Allah mulai bulan november 2009 Forum Kajian Falakiyah, Laboratorium Falak Fakultas Syari'ah Universitas Islam Negeri Sunan Malik Ibrahim ( UIN ) Malang, akan mengadakan PELATIHAN ILMU FALAK (DIKLAT) yang di peruntukkan bagi para pecinta Ilmu Falak Khususunya kalangan PESANTREN SE JAWA TIMUR DAN BALI, yang diadakan secara berkala setiap bulan, membuka 2 kelas, 1- Kelas A bagi para pemula yang belum faham sama sekali tentang Ilmu Falak 2- Kelas B / kelanjutan syarat dan ketentuan bisa kontak langsung ke sekretariat atau ke Erfaniah Zuhriyyah - 081334676016. A. Wahidi - 081615118878 Badruddin - 08125203420 Sebarkan dan beritahukan pada teman-teman anda, Semoga bermanfa'at
|
Bisakah ru'yatul hilal di globalisasikan? Banyak orang yang mendambakannya. Sekian lama kita merasakan ketidakpastian atau perbedaan di sana-sini dalam penentuan awal Bulan Hijriyyah khususnya awal Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha. Tetapi, apa makna globalisasi ru'yah itu? Tidak ada makna baku untuk istilah "globalisasi" dalam masalah ru'yatul hilal. H. Chumaidi Muslih (PR, 19 Juli 1994) menawarkan ide menarik namun belum tentu bisa diterapkan, karena globalisasi ru'yah tidak sesederhana yang diuraikannya. Apalagi dengan menyempitkan makna globalisasi sebagai "menyepakati Arab Saudi sebagai tempat pelaksanaan pemantauan bulan (ru'yatul hilal), kemudian negara-negara lain mengikuti dengan memperhitungkan perbedaan waktu/letaknya pada garis bujur (meridian), serta perbedaan posisi bulan/ketinggiannya terhadap garis horison barat pada saat tenggelamnya matahari di masing-masing tempat." Menyepakati Arab Saudi sebagai satu-satunya tempat pengamatan menimbulkan masalah tersendiri.
Keinginan ummat untuk mencari rumusan yang tepat bagi penyeragaman awal puasa dan hari raya yang berlaku secara global sungguh beralasan. Tetapi, kadang-kadang makna penyeragamannya pun belum difahami. Masih banyak orang yang beranggapan bahwa penyeragaman berarti bila di Mekkah awal Ramadan tanggal 1 Februari 1995 semestinya di seluruh pelosok dunia pun tanggal 1 Februari 1995. Anggapan seperti itu sebenarnya keliru, karena tanggal 1 Februari lebih didasarkan konvensi penentuan garis tanggal internasional yang melintas di lautan Pasifik. Akibat adanya garis tanggal itu 1 Ramadan di Indonesia bisa terjadi pada tanggal 2 Februari karena pada 31 Januari hilal sulit terlihat dari Indonesia tetapi mungkin mudah teramati di Mekkah. Dengan kata lain, penyeragaman dalam kalender syamsiah hanyalah mengacu pada hasil buatan manusia. Sumber : Berbagai sumber ░░░ Laporan Anggota BFI/FKF Gresik
Rukyatul hilal untuk menentukan awal bulan Dzulhijjah 1430 Hijriyah dilaksanakan pada selasa wage 17 Nopember 2009 bertepatan dengan 29 Dzul Qo'dah 1430 H. Data rukyat menunjukkan : Matahari terbenam pada pukul 17:25 WIB Tinggi Bulan saat Matahari terbenam 5°25' di atas ufuk Hakiki atau di sebelah kiri-atas posisi Matahari.
Dengan izin Allah saudara-saudara kita di Bukit Condrodipo Gresik jawa timur telah berhasil melihat Hilal dengan demikian sesuai dengan edaran lewat SMS yang beritahukan kepada semua anggota Rukyatul Hilal LF PBNU Oleh Bapak Rusli, yang isinya bahwa penetapan awal bulan Dzul Hijjah jatuh pada : selasa wage 17 November 2009 dengan demikian hari raya Idhil Adha jatuh pada : Jum'at Wage 27 Nopember 2009 Sumber ; Forum Kajian Falakiyah
Jakarta, NU Online
Riyadh, NU Online Harian Asharq al-Awusat
melaporkan, Mahkamah Agung Saudi Arabia berdasar pada hasil rukyatul hilal
yang dilakukan oleh warga Saudi pada Selasa sore waktu setempat.
Dilaporkan, sejumlah saksi yang dinilai ’adil’ telah menyatakan bahwa
mereka telah melihat hilal atau bulan sabit awal Dzulhijjah sehingga 1
Dzulhijjah jatuh pada hari Rabu dan 9 Dzulhijjah patuh pada hari Kamis.
Jakarta, NU Online ”Kita bersyukur bahwa umat Islam di Indonesia baik yang berdasar pada hisab saja atau hisab dan rukyat seluruhnya akan menrayakan Idul Adha pada hari yang sama,” kata Nasaruddin Umar kepada NU Online usai sidang itsbat.Ditanya mengenai kemungkinan ada beberapa kelompok minoritas Islam yang biasa merayakan Idul Adha pada hari yang berbeda karena memakai metode penetapan awal bulan yang berbeda, menurut Nasar, hingga saat ini pihaknya belum mendapatkan laporan mengenai adanya perbedaan ini.”Kalau pun ada itu tidak menjadi masalah, karena mereka hanya minoritas dan hanya di tempat tertentu. Biasanya juga shalat dilakukan secara diam-diam. Kita juga tetap saling menghargai,” pungkasnya. (nam) Copyright 2008 (C) Jember Astro Club Call Centre : 081234673071 |